Jajaki Potensi Robusta, BRMP Sumsel Kawal Kopi Oku Selatan
Sembari mengawal program swasembada pangan di Kabupaten OKU Selatan, Tim BRMP Sumatera Selatan menyempatkan diri mengunjungi sentra produksi kopi di Desa Sipatuhu, Kecamatan Banding Agung. Kunjungan ini dilakukan mengingat kelompok tani kooperator penerapan PM-AAS di wilayah tersebut juga merupakan para pembudidaya kopi robusta.
Dilansir dari data statistik nasional, Sumatera Selatan menyumbang sekitar 28% dari total produksi kopi nasional, di mana 40% di antaranya dipasok langsung dari Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan. Berada di kawasan dataran tinggi Bukit Barisan, wilayah seperti Ranau dan Semendo Dataran OKU Selatan memiliki kondisi geografis ideal yang menjadikannya tulang punggung produsen kopi robusta berkarakteristik unik dengan cita rasa bold, keasaman rendah, dan aroma cokelat karamel yang khas.
Di balik besarnya volume produksi kopi robusta tersebut, tingkat produktivitas lahan di OKU Selatan rata-rata masih berada di kisaran 0,7 hingga 0,9 ton per hektar per tahun, masih di bawah potensi optimal kopi robusta yang idealnya mampu mencapai 1,5 hingga 2 ton per hektar. Hal ini dipengaruhi oleh dominasi praktik pascapanen tradisional, seperti pemetikan asalan (buah hijau) dan pengeringan yang bergantung pada cuaca tanpa penanganan khusus, sehingga berimbas pada keterbatasan daya saing harga di tingkat petani.
Potensi OKU Selatan untuk memimpin pasar ekspor kopi sebenarnya sangat terbuka. Agar mampu bersaing di rantai pasok global, wilayah ini membutuhkan pendampingan teknis secara berkelanjutan. Upaya peningkatan mutu melalui edukasi pemetikan petik merah, sertifikasi Indikasi Geografis (IG), modernisasi proses fermentasi, hingga akses rantai pasok langsung ke pembeli atau kemitraan distribusi langsung (direct trade) menjadi kunci utama dalam memproses kopi OKU Selatan dari sekadar komoditas mentah volume tinggi menjadi produk specialty coffee berdaya jual tinggi di pasar dunia.